Monday, May 25, 2009

Masih Seputar Gempa (August 29, 2006)

Gempa 27 mei lalu masih menyisakan persoalan, masih banyak masyarakat yang tinggal di tenda-tenda, masih juga ekonomi lokal terpuruk, masih juga janji tinggal janji, masih juga realisasi bantuan tersendat masalah birokrasi, dan masih banyak masalah yang masih mengangkangi kota ini akibat gempa.

Belum lagi gempa gempa lain yang potensi nya tak kalah hebat dalam merusak tatanan kemasyarakatan di yogya.

"Gempa susulan" yang ber-episentrum dari mulut seorang pejabat yang menjanjikan sekian puluh juta rupiah per kepala keluarga yang sampai saat ini masih belum jelas dari mana asalnya, berapa total anggarannya, diambil dari pos mana anggaran tersebut, utang atau pembiayaan, Tidak kalah hebatnya mendera masyarakat Yogya yang polos lugu dan penuh harap setelah semua asa diluluh lantakan pergeseran lempeng di dalam perut bumi.

Akibat dari "gempa susulan" itu ternyata tidak kalah dahsyatnya dengan gempa tektonik 27 mei lalu dan sangat potensial untuk menyebabkan gempa gempa susulan lain.

Hitung saja berapa duit yang dibutuhkan untuk recovery dan rekonstruksi korban gempa? berapa milyar? berapa trilyun? masih punyakah negeri ini cadangan anggaran sebegitu besarnya? Menghitung ulang APBN? memprioritaskan recovery dan menomor-duakan pendidikan? Utang lagi? "Gempa susulan" ini benar-benar menggemaskan dan sangat konyol. Seharusnya Gempa susulan ini tak boleh terjadi, seperti prinsip lava yang diam diam memberikan kesuburan bagi tanah beberapa tahun kedepan, seharusnya para pemimpin mempersiapkan segala sesuatu baik itu program recovery atau program antisipasi bencana jangka panjang yang rasional, regular dan MASUK AKAL.

Potensi gempa susulan dari "gempa susulan" tadi sudah diprediksi banyak kalangan akan terjadi, bayangkan, anggaran trilyunan rupiah di depan mata, sedangkan rekor kebersihan proyek-proyek recovery masih sangat merah, tengok Aceh yang masih menyisakan persoalan auditing terhadap penggunaan anggaran bantuan. Belum lagi banyaknya kasus penolakan terhadap bantuan yang distribusinya tidak merata (sekali lagi bayangkan saudara/saudari .. seseorang dengan jabatan eselon, rumahnya yg seharga 1/2 milyar terkena gempa hanya retak, mendapat bantuan Rp. 90.000...!!) betapa amburadulnya, betapa runyamnya pendistribusian dana gempa yang susah payah dikumpulkan para mahasiswa di jalan jalan kepanasan, para pengamen, dan semua yang berusaha membantu saudara saudara yogya.Mengenai bantuan tadi? siapa yang salah? sang empunya rumah yang menolak bantuan? atau pimpinan lokal yang mengatur distribusi? atau pemerintah?

terlalu sia-sia untuk memperdebatkan hal tersebut karena semuanya tentunya menginginkan dan melaksanakan hal yang benar (menurut mereka masing-masing). Tetapi menurut saya fenomena tersebut menunjukan mentalitas bangsa ini adalah PAYAH terutama Pemerintahnya.

Nah sekarang, tiba saatnya bagi kita bersama merumuskan apa yang bagus bagi yogyakarta, bagi pemerintah dan pejabat di infrastruktur mungkin sudah punya masterplan mengenai recovery dan katanya anggarannya sudah cair dan tinggal dialokasikan, akan tetapi akan lebih bijaksana jika mendengarkan pendapat DPR seperti yang diutarakan salah seorang anggota legislatif dalam dialog di salah satu TV swasta lokal yogyakarta yaitu mengenai pembiayaan recovery dengan melibatkan pengusaha lokal atau nasional atau internasional dengan cara pembayaran tempo.Pemerintah membuat perjanjian dengan pengusaha lokal/nasional atau internasional (saya yakin banyak pengusaha nasional yang mampu) untuk melakukan recovery yogyakarta dengan membuat M.O.U recovery yang nantinya M.O.U itu menjadi jaminan bagi Bank untuk mengucurkan dana pinjaman bagi pengusaha itu, karena dengan menggunakan sistem ini maka anggaran pendidikan tidak terganggu walau setahun sekalipun, sistem pembayaran dengan sistem tempo sampai sekian tahun diatur supaya pengusaha lokal/nasional tersebut tetap untung namun tidak terlalu besar mengingat ini adalah progam kepedulian.

Hal ini sudah diterapkan di Kab. Kuker Kaltim yang sedang mempersiapkan infrastruktur untuk menghadapi Even olahraga nasional. Saya kira kalau yang berada diatas (pemerintahan) sedikit saja mengurangi ego mereka untuk korupsi dilain waktu dan lebih mengutamakan recovery dengan pengusaha lokal/nasional ini, sangat mungkin recovery yogyakarta akan berjalan lancar, clean dan sukses.

Kenapa saya mengatakan korupsi di lain waktu saja? karena ternyata korupsi tidak cuma dijakarta, buktinya kasus J.E.C juga ada penyelewengan, belum lagi bantuan pemerintah yang tak pernah sampai ke lereng merapi sehingga membuat simbah kita "Maridjan" tidak mau menuruti apakata pemerintah atau Gus Dur sekalipun, bahkan mbah "Maridjan" lebih menuruti apa kata pimpinan produk minuman suplemen yang terjun langsung ke lereng merapi dan memberi bantuan kepada rakyat, sehingga sang simbah ini rela untuk sementara menjadi bintang iklan yang sama sekali tak pernah terlintas dibenaknya.

Pinggir Jalan Solo, Jauh dari Bantul, Jauh dari Merapi......

0 comments: