Beberapa waktu lalu ekonom Faisal Basri mengomentari Kebijakan 20 juta NPWP baru dari DITJEN PAJAK sebagai kebijakan dungu.
Dungu atau tidak silahkan baca sendiri artikelnya di detik.com
bagi saya memunculkan secara instan 20 juta NPWP baru berarti memunculkan ladang KORUPSI baru bagi "anak-anak" DITJEN PAJAK.
Dalam kenyataan dilapangan, pemungutan pajak justru mirip operasi kelengkapan surat surat sepeda motor. SANGAT BISA DINEGO, MILIH BAYAR SEGINI ATAU BAYAR SAYA SEGINI. Alih alih meningkatkan pendapatan negara melalui pajak, justru kemungkinan besar yang akan ditimbulkan adalah merajalelanya dan meluasnya daerah kerja aparat pajak.
Saya bukan ahli pajak, juga belum punya NPWP, Belum pernah membuat SPT atau tetek bengek perpajakan lainnya. Tapi yang saya pelajari dalam short course dan diskusi saya dengan para pengajarnya, bahwa sebenarnya yang diperlukan adalah menertibkan aparat pajak dahulu setelah itu baru menertibkan wajib pajak. Memang di dalam masyarakat banyak terjadi kasus manipulasi pajak, kenapa demikian? karena pajak yang dibebankan tidak memberikan feedback yang bagus. Andaikata pajak itu tidak memberatkan dan tidak berbelit belit serta tidak terjadi premanisme aparat, saya kira para wajib pajak akan lebih "suka"rela dalam mebayar pajak.
Pajak dibuat bukan untuk memberatkan rakyat, Pajak dibuat seringan mungkin supaya kuantity yang dikejar sehingga terjadi pemerataan penarikan pajak dan tidak menimbulkan kecemburuan sesama wajib pajak.
Aparat pajak di tertibkan dibarengi dengan undang undang perpajakan yang disempurnakan, setelah itu baru menertipkan penyelewengan pajak, saya yakin jauh lebih efektif dari pada secara sporadis membikin NPWP secara paksa dan menerapkannya.
Betul sekali negara terbebani APBN yang high cost dan perlu penerimaan pajak yang lebih besar, tetapi kemabli kepada aparat pajaknya , kalo niat itu tidak dibarengi bersihnya aparat pajak, justru akan semakin memperkeruh masalah perpajakan di Indonesia.
Wahai kawan kawan DITJEN PAJAK, sadarlah, negara ini bisa hancur karena ambisi pribadimu. Berkacalah dan berpikirlah.
Thursday, November 03, 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment